5 Tantangan dalam Digitalisasi UMKM

Shafira
|
November 15, 2021

Digitalisasi UMKM kini hampir tidak bisa dihindari. Dengan dunia telah menjadi digital, hampir setiap orang kini memiliki smartphone dan menggunakannya setiap hari untuk membantu menemukan berbagai macam produk atau layanan dari suatu usaha, menilai produk dan layanan yang ditawarkan, serta menentukan keputusan pembelian.

Meskipun digitalisasi UMKM terdengar seperti sebuah perubahan besar, hal ini menghadirkan beberapa tantangan unik untuk UMKM. Karena bisnis terus menjadi lebih berorientasi digital, dan pengalaman karyawan dibentuk oleh teknologi, para pelaku UMKM akan menghadapi (dan akan terus menghadapi) banyak tantangan seputar proses transformasi digital UMKM milik mereka. 

Mari kita uraikan tantangan utama yang memperlambat digitalisasi UMKM dan cara mengatasinya secara efektif.

Digitalisasi UMKM

Tantangan Pertama: Perubahan dalam Layanan Pelanggan

Saat ini setiap bisnis berbasis pada pengalaman pelanggan dalam menggunakan suatu layanan atau produk. Loyalitas pelanggan pun dibentuk berdasarkan pengalaman positif yang mereka rasakan ketika menggunakan suatu merek usaha. Pelanggan menghargai bagaimana mereka merasakan manfaat dari produk dan layanan yang digunakan. Bisnis berbasis pengalaman pelanggan kini meluas ke toko online dan offline. Sebagian besar bisnis percaya bahwa layanan pelanggan akan menjadi cara utama mereka membedakan diri dari pesaing mereka.

Mengubah layanan pelanggan yang semula offline menjadi online akan menjadi suatu tantangan yang akan dihadapi oleh para pelaku UMKM. Ibarat seperti bersekolah kembali, para pelaku UMKM harus belajar dan memahami teknologi yang mereka gunakan untuk menunjang kegiatan bisnis. Tidak semua orang akan langsung melek teknologi sehingga setiap pelaku usaha pasti membutuhkan rentang waktu yang berbeda-beda untuk menguasai digitalisasi UMKM. Namun kini terdapat banyak workshop dan pelatihan UMKM yang dapat diikuti untuk membantu para pelaku UMKM dalam beradaptasi dengan proses digitalisasi UMKM.

Tantangan Kedua: Infrastruktur Digital Kurang Memadai

Di era new normal, koneksi internet akan menjadi infrastruktur penting. Infrastruktur digital harus dibangun secara merata agar dapat menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari yang kini serba digital. Tapi kenyataannya Indonesia masih mengalami ketimpangan internet dengan kurang memadainya penyebaran infrastruktur jaringan internet. Hal ini pun menjadi hambatan besar dalam proses digitalisasi UMKM karena tidak semua orang memiliki akses untuk menggunakan internet. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah pusat dan setempat harus meningkatkan infrastruktur digital di seluruh negeri, terutama di daerah terpencil yang jauh dari jangkauan kota-kota besar karena koneksi internet yang cepat akan menjadi salah satu layanan penting di saat pandemi seperti ini. Di saat yang sama, para pelaku UMKM dapat memperkuat basis layanan usaha dan merencanakan digitalisasi UMKM secara matang untuk mempersiapkan pergantian alur usaha ketika menjadi online.

Digitalisasi UMKM




Tantangan Ketiga: Adaptasi Layanan Usaha secara Omnichannel

Saat ini, pelanggan berpindah dari satu saluran ke saluran lainnya saat melakukan pembelian. Mereka akan melihat situs web bisnis, menelusuri dari laman sosial media, atau bahkan membaca rekomendasi produk dan layanan dari internet. Pelanggan seperti ini disebut sebagai pembelanja omnichannel dan mereka menyusup ke setiap bisnis dan industri di seluruh dunia. Tren pelanggan omnichannel akan terus bertambah seiring digitalisasi UMKM berkembang. Jika suatu usaha UMKM hanya mengandalkan penjualan langsung dan tidak memiliki kehadiran digital yang kuat, hal ini berisiko membuat pelanggan potensial menjauh dari UMKM tersebut.

Sediakan beberapa saluran penjualan secara sekaligus untuk membangun UMKM milikmu menjadi toko serba ada yang memungkinkan layanan pelanggan yang lancar dari semua titik kontak. UMKM milikmu dapat memperluas jangkauan bisnis dengan mulai berjualan di platform marketplace, melalui situs web UMKM-mu, dan melalui sarana digital lainnya seperti sosial media dan aplikasi pesan-antar. Tanpa jenis adaptasi ini, setiap UMKM berisiko kehilangan sebagian besar pelanggan. Meskipun mengadopsi pendekatan omnichannel tidak selalu mudah, hal ini sepadan dengan investasi dan usaha.

Tantangan Keempat: Adaptasi dengan Perubahan

Tantangan transformasi digital lainnya adalah mengikuti teknologi terbaru dan di sisi lain menjaga jumlah transformasi yang terjadi secara internal. Antisipasi atas perkembangan teknologi memang membutuhkan banyak waktu dan ketekunan dalam mempelajari teknologi tersebut. Alih-alih menganggap bahwa teknologi adalah sesuatu yang kompleks, mulailah beranggapan bahwa teknologi menciptakan peran baru dalam melengkapi jalannya UMKM. Tantangan untuk mengikuti tren perkembangan teknologi sangat signifikan, tetapi satu-satunya cara untuk tetap menjadi yang terdepan adalah dengan berinvestasi dalam strategi digital dan mempertahankan pola pikir kepemimpinan yang gesit. 

Tantangan Kelima: Transaksi Pembayaran Online Masih Dianggap Sulit Diadakan

Pemerintah terus menggerakkan masyarakat untuk beralih ke transaksi non tunai karena penggunaannya dapat meminimalisir kontak fisik. Perubahan tren pembayaran dari tunai ke non tunai telah mengubah metode pembayaran yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini juga mempengaruhi proses digitalisasi UMKM dimana setiap UMKM harus siap menerima pembayaran non konvensional.

Menerima pembayaran secara online dapat tampak seperti rintangan besar bagi banyak pemilik UMKM. Tetapi kenyataannya, jika kamu ingin bisnis UMKM milikmu sukses, kamu harus menawarkan cara yang nyaman dan mudah bagi pelangganmu untuk membayar. Saat ini tersedia banyak platform penyedia pembayaran online yang prosesnya mudah diikuti. Salah satunya adalah OY! Bisnis. Platform penyedia pembayaran online akan membantu UMKM milikmu untuk menyediakan kanal pembayaran online. Prosesnya cenderung mudah dilakukan dan memiliki harga yang disesuaikan berdasarkan skala bisnismu.

Mudahkan Digitalisasi Pembayaran UMKM dengan OY! Bisnis

Digitalisasi UMKM



OY! Bisnis hadir untuk memberikan kemudahan baik dalam mengirim maupun menerima pembayaran bisnis kamu. Sebagai sistem pembayaran di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan performa UMKM, kami menghadirkan berbagai fitur dan layanan pembayaran bisnis yang dapat membantu usaha UMKM milikmu meningkatkan performa pembayaran.

Segera daftarkan UMKM milikmu di OY! Bisnis dan dapatkan berbagai keuntungan dalam bertransaksi melalui fitur-fitur OY! Bisnis. #MOVEWITHOY

Kami Siap Membantu Anda

Mulai sekarang dan segera rasakan kemudahan transaksi bersama kami. Atau, hubungi kami apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai produk yang bisa menjadi solusi bagi bisnis Anda.
Mulai Sekarang
Logo BI White
PT. Dompet Harapan Bangsa (“OY! Indonesia”) registered and authorized by Bank Indonesia, Register Number 21/267/Jkt/3
PT. Dompet Harapan Bangsa (“OY! Indonesia”) registered and authorized by the Financial Services Authority, Register Number S-326/MS.72/2019
Logo Kominfo White
OY! Indonesia registered as the electronic system provider at Indonesia Ministry of Communication and Informatics, Register Number 000019.01/DJAI.PSE/02/2021.
ISO 9001 Quality Management System, ISO 27001 Information Security Management System, ISO 37001 Anti-bribery Management System certified by BSI under certificate numbers FS 751090, IS 751086, and IABMS 780552
Follow Us On
© OY! Indonesia. 2023